Sinetron Para Pencari Tuhan Mendapat Penghargaan Internasional

Sinetron

Lagi-lagi nama Indonesia membuat harum dunia dengan karya anak negeri. Ini tak lain prestasi yang dicetak Deddy Mizwar dalam sinetron Para Pencari Tuhan. Sinetron yang kental dengan pesan dakwah itu mendapat penghargaan Special Award for Foreign di ajang International Drama Festival in Tokyo, Jepang, Kamis, 23 Oktober 2008.

Deddy berangkat ke Jepang bersama dengan Melky, Isa, Aden, dan Zaskia Adya Mecca. Mereka bangga bisa menerima penghargaan prestisius tersebut. Terlebih di kesempatan itu mereka bisa bersanding dengan para sineas Asia mulai dari Jepang, Korea, hingga Vietnam.

Usai acara Deddy dan kawan-kawan memanfaatkan waktu berjalan-jalan. Salah satu kota yang didatangi adalah Shibuya. Melky kagum dan senang berkeliling di sana. “Ini adalah salah satu tempat pergaulannya anak-anak muda di Tokyo,” kata Melky diamini Aden, Isa, dan Zaskia.

Tersimpan kisah tak terlupakan dialami Isa. Kejadian itu terjadi kala Isa makan seusai acara. Pria berambut keriting ini mengkonsumsi makanan yang dilarang agama. Ia kaget dan menyesal. “Soalnya di sini nggak ada nama latinnya,” kata Isa.


Merindukan “Para Pencari Tuhan” Pasca-Ramadhan

Di tengah menjamurnya tayangan sinetron yang dinilai kurang membumi, selama dua Ramadhan terakhir ini, kita disuguhi tayangan yang lebih segar dan manusiawi. Tak salah lagi, sinetron bertajuk “Para Pencari Tuhan III” (PPT III) garapan aktor gaek, Deddy Mizwar, yang ditayangkan di stasiun SCTV (pukul 02.30-05.00 WIB) itu bisa menjadi bagian santap sahur yang mencerahkan kemanusiawian religiositas kita di tengah menjamurnya sinetron religi yang cenderung menggurui sekaligus menghakimi.

Dalam pandangan awam saya, PPT III tak hanya cerdas dan cerdik menggambarkan karakter manusiawi para tokoh yang tampil dengan segenap kelebihan, kekurangan, dan kekonyolannya, tetapi juga mampu menyentil kritik-kritik sosial-politik kontemporer yang selama ini cenderung vulgar dan jorok. PPT III menampilkan kritik dengan sajian filmis, bersahaja, dan jauh dari kesan menggurui.

Lihat saja adegan-adegan komedi situasi religi yang dibangun oleh tiga mantan narapidana, Barong (Aden-Bajaj), Juki (Isa-Bajaj), dan Chelsea (Melky-Bajaj) dengan seorang marbot bernama Bang Jack (Deddy Mizwar). Ketiga mantan napi yang telah tercampak dari masyarakat dan “tersesat” di Mushola At-Taufik yang dijaga Bang Jack, sang Marbot yang berilmu agama pas-pasan. Kita juga bisa menyaksikan kekonyolan, kekenesan, dan kenyinyiran tokoh-tokoh yang terlibat dalam pemilihan ketua RW, Udin Hansip (Udin Nganga) dan Asrul (Asrul Dahlan) yang berjuang keluar dari kemiskinan agar bisa naik haji, Baha (Tora Sudiro) yang belum sepenuhnya tobat, Juki (Isa Bajaj) yang kehilangan emaknya, dan asmara segitiga Azzam (Agus Kuncoro), Aya (Zaskia Adya Mecca), atau Kalila (Artta Ivano). Tokoh-tokoh yang tampil tak dihadirkan secara stereotype –hitam dan putih, tetapi benar-benar mengakar dalam realitas kemanusiawian dalam kehidupan sehari-hari.

Walhasil, desain sinetron semacam ini yang sesungguhnya bisa menghadirkan sentilan-sentilan kritik, tanpa harus menyakiti dan menghakimi. PPT III juga tidak bergaya doktriner dan dogmatis. Alur cerita mengalir seperti halnya ketika kita menyaksikan patron-patron tokoh yang nyata hadir di sekitar kita.

Di tengah maraknya gaya hidup konsumtif dan hedonis yang terus menggerus nilai-nilai kebersahajaan dan kejujuran, kita sangat merindukan hadirnya desain sinetron ala PPT III ini pasca-Ramadhan. Artinya, ia tidak hanya hadir sekadar “asesoris” hiburan religi selama bulan puasa, tetapi juga pada saat-saat lain ketika layar TV di rumah kita sudah berlumuran darah, hantu, mistik, perselingkuhan, kemewahan, dan mimpi-mimpi indah tentang gebyar keduniawian.

Sayangnya, sebagian besar stasiun TV kita sudah masuk dalam pusaran industri yang harus selalu menghadirkan keuntungan finansial pada setiap jengkal tayangan yang dihadirkan. Masih sangat minim industri TV kita yang luput dari jarahan tangan para pemilik modal. Dalam kondisi semacam ini, PPT III bisa dibilang sebagai salah satu sinetron “bergizi” yang siap menghadirkan pencerahan di rumah kita, meski belum juga sepenuhnya mampu menghindar dari sentuhan kuis Ramadhan yang dipandu grup humor Bajaj dan musik parodi Teamlo itu.

Para Pencari Tuhan 3 © 2008 Por *Templates para Você*